MERS-CoV, WASPADAI TANPA PANIK

Oleh : Husnun Nisa Ratna Ningrum, Sp.P

 

Baru-baru ini kota Kudus dihebohkan dengan kasus pasien suspek MERS. Apakah itu MERS? Middle East respiratory syndrome (MERS) adalah penyakit pernapasan akibat coronavirus yang belum pernah dikenal sebelumnya (MERS-CoV). Menurut berbagai analisis genome virus, dipercaya bahwa virus ini berawal dari kelelawar lalu ditransmisikan ke unta pada waktu lampau.  Infeksi virus ini terhadap manusia diketemukan pertama kali di Saudi Arabia pada tahun 2012. Beberapa negara yang dilaporkan mengalami wabah terbanyak antara lain Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan Republik Korea. Dilaporkan sebanyak 35% pasien MERS meninggal dunia.

Sebenarnya virus ini adalah jenis virus  zoonotic. Artinya virus ini bertransmisi antara hewan dan manusia. Menurut penelitian diduga bahwa unta merupakan inang utama virus ini, namun bagaimana rute transmisinya hingga menginfeksi manusia belum diketahui sepenuhnya. Virus ini sangat sulit untuk menular dari manusia kemanusia kecuali terdapat kontak yang sangat erat. Kondisi dimana terdapat kontak erat antara lain petugas kesehatan yang tidak memakai alat pelindung diri yang sesuai selama merawat pasien MERS. Oleh karena itu petugas kesehatan yang menanganinya harus memakai APD yang tepat.

Kecurigaan penyakit ini muncul bila terdapat gejala klinis setelah riwayat bepergian keTimur Tengah dalam waktu 14 hari sebelum sakit kecuali ditemukan penyebab lainnya. Gejala klinis penyakit ini mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga berat bahkan sampai kematian. Gejala yang biasanya muncul antara lain demam, batuk dan sesak napas. Gejala gastrointestinal yang dilaporkan bias turut menyertai adalah diare. Beberapa kasus yang tidak menampakkan gejala sama sekali (asimtomatis) kadang terdeteksi oleh penelusuran laboratorium secara agresif setelah kontak erat dengan kasus terkonfirmasi.

Belum ada vaksin khusus untuk mencegah penyakit ini. Pencegahan yang bias dilakukan adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh, menghindari kontak erat dengan penderita, menerapkan etika batuk, menjaga sanitasi tubuh dan lingkungan, menjaga keseimbangan gizi serta olah raga teratur. Jika terdapat gejala klinis misalnya demam disertai batuk atau sesak napas dalam kurun waktu 14 hari sesudah perjalanan ke Negara terjangkit maka sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>